Ney

myfStory sedang sibuk dengan komputernya ketika seorang temannya masuk ke kamarnya. Ia memandang temannya itu. Seseorang berambut acak-acakan, mata sendu, dan tampang kucel.

“Ada apa?” tanya Story.
“Aku kangen Ney.”
“Duduklah. Jadi, Ney pindah?”
“Tidak.”
“Dapat kerja baru?”
“Tidak juga.”
“Kalian pasti bertengkar.”
“Bukan itu alasannya.”
“Kalau begitu, dia pergi ke mana?”
“Dia gak pergi ke mana-mana.”
“Kenapa kamu kangen?”
“Aku cemburu.”

Story seketika memalingkan mukanya kembali ke layar komputer setelah mendengar jawaban temannya. Dia melanjutkan bekerja, tapi tetap mendengarkan temannya, seperti biasa.

“Jadi Ney punya kekasih?”
“Mungkin. Akhir-akhir ini, setiap kali kami pulang kerja bersama, Ney turun di masjid untuk bertemu dengan pujaannya. Dia meninggalkan aku di bus. Aku Cuma bisa melihat punggung Ney dari tempat dudukku.”
“Hmm.”
“Aku kangen kebersamaan kami sepulang kerja. Kamu tahu ‘kan, waktu pulang kerja adalah waktu favorit kami. Biasanya, dari jendela bus, kami menikmati memandang orang-orang di luar bus. Menertawakan keanehan mereka. Makan jajanan bersama. Atau kadang kami habiskan waktu di kolam renang, ke toko buku, nonton bioskop, ke mal, atau nonton konser musik.”
“Tunggu,… kau katakan… dia bertemu pujaannya? Maksudmu… Ney benar-benar punya pacar?”
“Mungkin pujaannya itu bukan pacar,… tapi mungkin lebih dari pacar.”
“Hah? Kamu sendiri tak yakin? Kenapa kamu tak tanya Ney? Atau kamu ikut turun dari bus untuk cari tahu siapa kekasihnya itu?”
“Aku sudah tahu.”
“Baiklah. Tak apa-apa, ‘kan? Kamu semestinya senang melihat Ney senang. Menurutku, kamu semestinya cari pacar juga. Kalian sudah lama sekali bersama. Jadi, ketika ada seseorang hadir di antara kalian, kamu merasa kehilangan. Ngomong-ngomong, cowok itu ganteng ‘gak?
“Cowok?”
“Iya, seseorang yang membuat kamu cemburu itu.”
“Pujaan Ney itu bukan cowok.”
“Apa? Ya, ampun! Maksudmu… Ney? Dengan cewek?”
“Bukan cewek juga.”
“Alalalalala… bicara yang jelas dong.”
“Aku cemburu dengan Tuhan. Tuhannya Ney.”
“Apa?”

Story menghentikan kerjanya dan mendengarkan temannya dengan serius. Dahinya berkerut. Dia memandang temannya itu tajam-tajam, menunggu penjelasan selanjutnya. Temannya menghela napas.

“Seminggu yang lalu, Ney memutuskan untuk memakai jilbab. Kamu tahu ‘kan, kerudung muslim.”
“Iya. Itu bukan masalah, ‘kan?”
“Kamu tahu, kami berbeda keyakinan.”
“Kamu sudah tahu perbedaan itu sejak pertama kalian bertemu. Kalian sudah lama sekali bersama dan tak pernah mempermasalahkan hal itu.”
“Betul, tapi Ney jadi berbeda bagiku. Dia tak akan lagi meluangkan waktu bersamaku. Aku kehilangan saat-saat favoritku, kehilangan seseorang yang jadi favoritku.”
“Itu cuma perasaanmu saja!” teriak Story, “pastilah dia tampak berbeda. Pakai dan tidak pakai jilbab pasti tampak berbeda. Ney tak mau meluangkan waktu bersamamu lagi? Jangan ngaco. Kalian masih tetap bersahabat. Oke? Telepon dia sekarang.”

Story mengambil ponsel temannya itu, memencet nomor Ney, dan mengembalikan ponsel itu.

“Apa yang kamu lakukan?”
“Ini. Kamu kangen Ney, kamu telepon dia sekarang. Ayo! Bicara dengan dia!”

Tuuuuuuuuuuttttttttttt…..tuuuuuuuuuuuttttttttttttttt…….tuuuuuuuutttttt. Telepon tersambung dan Ney menyahut.

“Assalamualaikum! Hai! Hai! Hai! Halo! Ada apa, Sista!” Ney menjawab dengan riang, tapi dia tidak mendengar respon apa-apa, “hello…, hola…, halo…, kamu di sana? Hey, ada apa, Sista?”

Ney mendengar isak seseorang.

“…Ney, …aku kangen.” 

Iklan

One thought on “Ney

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s