Karma

Achel dan saya bersantap siang bersama. www wedo deKami memilih steak sapi sebagai menu spesial. Achel baru dimarahi bos kami tadi pagi. Katanya, dia perlu makan steak untuk menambah energi. Tapi, saya teringat sesuatu kalau melihat steak sapi.

“Achel, kamu tahu nggak bos mau jadi apa kalau dia bereinkarnasi?
“Aduh. Jangan bahas dia, dong, apalagi pas makan siang begini.”
“Bukan begitu. Ini menarik.”
“Mmm, memangnya dia percaya reinkarnasi? Orang serealistis dia?”
“Jelas, dia ‘kan orang India.”
“Ok, aku tebak ya. Bunglon! Dia suka muncul tiba-tiba tanpa kita tahu kalau dia datang. Seolah-olah dia sudah lama ada di sekitar kita menyamar jadi benda. Seperti kejadian tadi pagi.”
“Bukan. Dia pernah bilang mau bereinkarnasi jadi sapi.”
“Sapi? Sapi pakai kacamata. Hahaha. Mmm, gak menarik. Dia bilang kenapa?”
“Tidak. Tapi sekarang, aku tahu hubungannya. Sapi itu ‘kan dihormati di India. Mungkin, dia mau semua orang menghormati dia di kehidupan yang akan datang, seperti karyawan-karyawannya sekarang yang menghormati dia.”
“Mau selalu dihormati di setiap tingkat kehidupan?”
“Kalau kamu sendiri percaya reinkarnasi, Achel?”
“Tidak, tapi kalau aku boleh memilih untuk jadi seseorang atau sesuatu lainnya, aku tahu pilihanku.”
“Aku tahu kamu, Achel. Kamu suka Harry Potter. Pasti kamu mau jadi J.K. Rowling.”
“Bukan. Aku mau jadi ….”

Achel mencabik-cabik steak-nya dengan pisau dan memakannya dengan rakus.

Iklan

One thought on “Karma

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s