Kesayangan Guru

tp

“Bu Ratna, saya tak suka Fisika. Saya tak mau pilih Biologi. Saya juga tak tertarik Sosial.”
“Tapi, kamu harus pilih satu, Story.”
“Kenapa kita tak punya Jurusan Bahasa, Bu? Sekolah-sekolah bagus lainnya punya Jurusan Bahasa.”
“Kami pernah menawarkan Jurusan Bahasa lima tahun lalu, tapi cuma sedikit siswa yang berminat. Kau tahu, kita harus mempunyai 30 siswa untuk buka jurusan baru. Oke. Saya tahu kalau kamu berminat bahasa. Kita akan buka jurusan itu tahun ini, tapi kamu yang harus mengumpulkan siswanya. Ajak 29 temanmu untuk bergabung di Jurusan Bahasa.”
“Saya?”
“Iya. Kamu.”
“Bu. Ibu ‘kan gurunya. Ibu Guru Bahasa. Jadi, teman-teman akan lebih menghargai Ibu daripada saya.”
“Kamu ambil tantangan saya atau kita lupakan ide ini.”
“Baiklah. Saya coba.”

Story mencoba mengajak teman-temannya untuk bergabung di Jurusan Bahasa. Tidak mudah baginya. Ia sebenarnya pemalu, tapi ia mencoba berani. Ia mengajak teman-temannya secara pribadi. Ia juga masuk ke kelas-kelas untuk bertanya apakah ada yang berminat masuk Jurusan Bahasa. Ia tidak mempromosikan apa-apa. Ia cuma berkata bahwa sekolah mereka akan membuka Jurusan Bahasa untuk siswa kelas 11 tahun itu.

Setelah itu, Story menemui Bu Ratna di ruang guru.

“Bu Ratna, saya sudah mencoba.”
“Bagus. Bagaimana hasilnya?”
“Cuma 11 orang. Saya gagal.”
“O, tidak. Kamu tidak gagal. Usahamu bagus. Tapi, maaf, jumlah itu belum cukup.”
“Saya tahu, Bu.”

Story tampak sedih. Bukan karena ia gagal mengajak teman-temannya, tapi karena ia harus memilih jurusan yang tidak ia inginkan.

“Story, kalau kamu benar-benar mau belajar bahasa, kamu bisa memilih jurusan itu, tapi tidak sekarang, tidak di SMA. Kamu bisa belajar di universitas, dua tahun lagi. Untuk sekarang, kamu mungkin akan suka masuk Jurusan Sosial. Kita punya bahasa Jepang sebagai pelajaran bahasa asing tambahan untuk siswa Jurusan Sosial. Kamu tertarik?”
“Baiklah, Bu.”
“Kamu harus giat belajar dan saya yakin kamu akan bisa mewujudkan keinginanmu mendalami bahasa di universitas. Kita akan berjuang bersama.”

Story menatap gurunya, mencoba untuk mempercayai perkataan gurunya. Bu Ratna tersenyum.

***

Tujuh tahun kemudian, Story berdiri di ruang yang sama. Ia mau menunjukkan ijazah sarjana Sastranya. Ia juga membawa sebuah buku yang di sampulnya tercantum namanya sebagai pengarang. Tapi ia tidak dapat berjumpa Bu Ratna. Guru kesayangannya itu sudah pindah ke kota lain.

Iklan

One thought on “Kesayangan Guru

  1. Ini adalah tulisan #8 saya dalam program WordPress’ 365 Days of Writing Prompts.
    #8 January 8 Teacher’s pet
    Tell us about a teacher who had a real impact on your life, either for the better or the worse. How is your life different today because of him or her?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s