Memorabilia

Dia mendapat hadiah ulang tahun dari ayahnya. Sebuah sepeda. Sesuatu yang sangat ia inginkan meskipun ia belum bisa mengendarai sepeda. Sebuah sepeda mini dengan tambahan dua roda kecil untuk berlatih keseimbangan merupakan pilihan yang tepat untuk anak usia 5 tahun yang ingin belajar mengayuh sepeda.
“Ini sepedaku. Gak boleh ada yang naik. Sepeda ini cuma buatku,” Story berkata kepada Kaka, kakaknya.
“Kamu gak bisa naik sepeda! Biar aku yang kayuh dan kamu bonceng di belakang,” kata Kaka.
Gak. Aku mau belajar naik sepeda.”
Gak. Kamu gak bisa. Aku mau naik sepedamu,” kata Kaka sambil mencoba mengambil sepeda itu.
Gak. Aku mau jadi yang pertama naik sepedaku. Yang lain gak boleh,” Story berteriak.
“Story, kalian berdua bisa ‘kan main bersama. Kakakmu bisa mengajarkan kamu naik sepeda,” kata ibu.
“Aku tahu dia, Ma. Dia pasti mau naik sepeda sama teman-temannya,” kata Story.
“Kamu mau ‘kan ajarkan adikmu naik sepeda, Kaka?”
“Tentu, Ma. Tapi coba lihat. Aku gak boleh pegang sepedanya. Memang kamu pikir siapa temanmu yang mau ajarkan kamu naik sepeda, Story? Teman-temanmu lebih besar dari kamu. Mereka mau main sepeda bersama dan meninggalkan kamu,” kata Kaka.
“Sudah-sudah! Mama akan perhatikan kalian berdua. Ajari adikmu, ya. Dan Story, biarkan kakakmu yang ajari kamu,” kata ibu.
Story setuju, akhirnya. Kaka mengajari adiknya dengan sabar. Pertama, ia membiarkan roda mininya tetap terpasang. Setelah Story sedikit bisa mengatur keseimbangan, ia melepas roda mini itu. Story terjatuh beberapa kali, masuk ke selokan, terluka, tapi ia berusaha keras untuk tidak menangis.
horizontal_dividerHari demi hari berlalu, Story bisa mengendarai sepeda sendiri.
“Ok. Tugasku selesai. Sekarang aku mau naik sepedamu. Aku mau keliling-keliling,” kata Kaka.
“Gak. Kamu gak boleh naik sepedaku. Ini punyaku.”
“Aku sudah ajari kamu dan kamu dulu janji mau pinjamkan aku sepedamu setelah aku ajari kamu.”
“Kamu ‘kan punya sepeda sendiri.”
“Tapi aku mau coba sepedamu.”
“Tidak. Tidak. Tidak.”
Suatu hari, Story pergi bersama ibu. Kaka memanfaatkan waktu itu untuk berkeliling naik sepeda Story. Ia bermain sepanjang hari. Ketika dia kembali, dia melihat Story dan ibu sedang masuk rumah. Story melihat kakaknya naik sepedanya. Story menangis.
“Ma, dia naik sepedaku. Sepedaku bisa rusak, Ma.”
“Mama yakin kakakmu pasti berhati-hati.”
“Aku gak mau dia naik sepedaku.”
“Ssstt. Kamu gak boleh begitu.”
Itu adalah kali pertama dan terakhir bagi Kaka naik sepeda Story. Story tidak mengizinkannya naik sepeda itu lagi.

horizontal_dividerBulan demi bulan berlalu, Story tumbuh semakin tinggi. Sepeda mininya menjadi terlalu kecil untuk kakinya yang semakin panjang. Ibunya mau memberikan sepeda itu kepada sepupu Story.
“Gak. Itu sepedaku. Itu kado ulang tahunku dari Papa. Sepeda itu telah berjasa membuat aku bisa naik sepeda. Sepeda itu sangat bersejarah. Aku gak mau memberinya,” kata Story.
“Sepeda itu akan lebih berjasa dan lebih bersejarah kalau kamu berikan ke sepupumu,” kata ibu.
“Gak, Ma. Dia lebih baik punya sepeda barunya sendiri. Aku minta maaf.”
“Lalu mau kamu apakan sepeda minimu itu? Kamu gak bisa naik sepeda itu lagi.”
“Aku tahu. Aku akan menjadikannya barang kenanganku.”

horizontal_dividerTahun demi tahun berlalu, Story sudah lupa dengan barang kenangannya. Sepeda mininya ditinggalkan di gudang bersama sepatu kaca Cinderella-nya, boneka-bonekanya, balonnya yang sudah kempis, buku-buku TK-nya, pita-pita rambutnya yang warna-warni, kursi Hello Kitty-nya yang berwarna pink, dan debu-debu yang tebal.

Iklan

One thought on “Memorabilia

  1. Ini adalah tulisan #92 saya dalam program WordPress’ 365 Days of Writing Prompts.
    #92 April 2 Prized Possession: Describe an item you were incredibly attached to as a child. What became of it?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s