Sosial Media

“Ke mana saja kamu? Kita lama gak ketemu, ya,” kata Nelli.
“Aku masih di Jakarta.”
“Kenapa gak pernah ikut kumpul sama kami.”
“Kami?”
“Maksudku teman-teman SMA kita. Nia, Opie, Mega, Emil tanya kabarmu. Mana aku tahu.”blogs.lynn.edu NoSocialMedia-300x200
“Kamu sering ketemu mereka, Nel?”
“Ya. Kami bertemu di internet. Minta pin BB kamu. Kamu masuk di grup BBM kita, ya.”
“BBM? Aku gak punya BB.”
“Akun FB?”
“Facebook? Gak ada juga.”
“YM? WhatsApp? Twitter?”

Gak ada…. Aku gak ada waktu untuk itu.”
“Itulah sebabnya kamu gak tahu perkembangan kami.”
“Ampun…. Kenapa aku harus punya itu?”
“Apa lagi yang lebih menyenangkan daripada bergaul dengan teman?”
“Aku mengerti, tapi aku ‘kan bukan artis. Siapa yang peduli dengan apa yang aku lakukan dan kenapa juga mereka harus peduli padaku?”
“Oke. Aku akan buatkan akun buat kamu sekarang dan kamu akan tahu alasannya nanti. Apa alamat email-mu? Jangan bilang kamu gak punya email.”
Story tersenyum melihat Nelli menyalakan laptop dan begitu bersemangat membuat akun Facebook untuk Story.

Itulah awal Story punya akun sosial media pertamanya. Selama ini ia berpikir bahwa sosial media hanya untuk orang terkenal yang mau mempromosikan diri mereka sendiri dan para remaja yang mau mengikuti perkembangan artis idolanya.
horizontal_dividerDi hari pertama, dia mendapat 48 orang yang mengundangnya menjadi teman Facebook mereka. Dia terkejut. Siapa mereka? Bagaimana mereka menemukan dirinya? Dia membaca nama mereka satu demi satu. Dia menyetujui keluarga dan teman-teman yang dia kenal untuk menjadi teman Facebook-nya. Dia membaca profil mereka dan melihat foto-foto mereka.

Dia terpaku pada satu nama. Nama itu mengembalikan ingatannya pada seseorang dari masa lalu. Dia bersyukur karena FB dapat mempertemukannya dengan orang yang dulu begitu spesial baginya. Orang itu bukan kekasihnya, tapi seseorang yang ia kagumi.
“Apa kabar, Nico?” tanya Story dalam hati. Ia mencari tahu lebih banyak tentang Nico, khususnya tentang statusnya. Single. Story mengirim pesan pribadi kepada Nico melalui FB. Dari perbincangan mereka melalui pesan FB, Story tahu bahwa Nico sudah menikah. Dia sengaja tidak mempublikasikan semua data pribadinya di FB. Nico berkata bahwa ia juga sudah punya anak, tapi anak laki-lakinya itu sekarang sedang terbaring koma di rumah sakit. Nico mengirim sebuah foto anak laki-laki. Kondisi anak itu begitu mengerikan. Story terenyuh. Nico berkata bahwa kondisi anaknya semakin buruk padahal ia sudah menghabiskan banyak uang untuk biaya pengobatan anaknya. Story menawarkan bantuan uang jika Nico mau. Nico memberikan rekening bank atas nama anaknya dan Story mentransfer sejumlah uang.

“Ternyata internet ajaib banget,” kata Story pada dirinya sendiri, “sosial media membuatku mudah menemukan saudara dan teman-temanku. Teknologi bantu aku berinteraksi, menemukan orang-orang yang sudah lama hilang kontak, membantu orang seperti Nico.”
horizontal_dividerKeesokan harinya, Story menelepon Nelli. Ia mengajak Nelli membesuk anak Nico di rumah sakit.
“Nico yang mana yang kamu maksud?” tanya Nelli.
“Nico, teman sekelas kita di SMA.”
“Ya, Yuhan. Aku lupa beri tahu kamu tentang Nico.”
“Ada apa? Tentang anaknya? Dia baik-baik saja, ‘kan?”
“Mmm, menurutku Nico dapat satu korban lagi.”
“Korban?”
“Apa kamu transfer uang ke Nico?”
“Ya. Anaknya sakit parah.”
“Bukan, Story. Orang itu bukan Nico kita. Akun Nico dibajak oleh orang tak bertanggung jawab.”
“Apa?”
“Orang itu hacker, penjahat dunia maya.”
“Sialan….”
“Teman-teman dan aku sudah memblokir akun FB Nico. Kami korbannya juga.”
Story tak dapat berkata apa-apa.
“Story…, Story…, kamu masih dengar?”
Story tidak menjawabnya. Dia tak percaya dengan apa yang didengarnya. Sosial media telah membuatnya menemukan keluarga dan teman-teman lamanya dengan mudah. Di sisi lain, sosial media telah membuatnya kehilangan uang dengan mudah. Setelah pengalaman buruk itu, dia trauma menggunakan sosial media.

Iklan

One thought on “Sosial Media

  1. Ini adalah tulisan #91 saya dalam program WordPress’ 365 Days of Writing Prompts.
    #91 April 1 The social network: Do you feel like you “get” social media, or do you just use it because that’s where all your friends and family are?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s