Fantasi

dorong    “Apa sinterklas itu benar-benar ada?” tanya Story sambil melihat ke luar menembus kaca jendela ruang tamu yang sempit.
“Itu cuma fantasi,” jawabnya sambil jongkok membelakangi ruang tamu.
“Fantasi? Apa itu fantasi?” tanya Story sambil masih melihat ke luar jendela. Kepalanya tiba-tiba bergerak refleks ke belakang.
“Tidak benar-benar ada.”
“Kata Mia, Sinterklas datang ke rumahnya hari Natal lalu sambil kasih boneka yang dia minta,” kata Story sambil mengerucutkan bibirnya lalu menganga.
“Boneka itu bukan dari Sinterklas. Pasti itu dari papanya.”
“Kalau aku juga minta ke Sinterklas, apa dia mau mengabulkan, ya?” tanya Story dengan mata berbinar dan bergerak-gerak mengikuti gerakan yang diamatinya.
“Huus. Papa gak punya uang untuk belikan kado untukmu sekarang.”
“Aku gak minta ke Papa. Aku minta ke Sinterklas,” kata Story sambil tersenyum kecil.
“Hahaha. Sinterklas ‘kan cuma fantasi. Lagipula Natal sudah lewat. Tak ada lagi Sinterklas atau Papa atau siapapun yang akan beri kamu boneka sekarang ini.”
“Aku gak minta boneka,” kata Story sambil beranjak dari kursi, berjalan mendekati pintu, mengintip dari balik gorden yang berlubang, dan perlahan-lahan membuka pintu.
“Hei, kamu mau ke mana? Tutup pintu dan kembalilah ke sini. Bubur kita sudah hampir siap. Kapan-kapan kita beli boneka, ya,” katanya sambil mengaduk bubur encer.
“Aku gak mau boneka,” ujar Story sambil melangkah keluar, “aku mau ikut Sinterklas,” lanjutnya sambil naik ke atas gerobak kayu beroda dua yang baru saja ditimbuni kulkas, lampu meja, dan kipas angin dari rumah tetangga depan oleh seorang pria tua bertubuh kurus berlapis kaos merah, “aku mau jadi Sinterklas cilik pertama di dunia. Kalau kereta ini sudah penuh, aku berikan semua buat Papa!” serunya dari gerobak yang bergerak meninggalkan rumah.
Pria tua bertubuh kurus berlapis kaos merah kumal itu menarik gerobaknya tanpa tahu ada Sinterklas cilik di belakangnya.

Iklan

One thought on “Fantasi

  1. Ini adalah tulisan #67 saya dalam program WordPress’ 365 Days of Writing Prompts.
    #67 March 8 Fantasy: The Tooth Fairy (or Easter Bunny, or Santa Claus…) : a fun and harmless fiction, or a pointless justification for lying to children?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s