Sensasi Tunggal

literature   terribleminds.comKeterbatasan. Dia melanggar jadwalnya sendiri. Dia merasa buntu, tak bersemangat, atau mungkin terpuruk. Manusia punya keterbatasan, kata Paula di blognya. Saya tersenyum setuju. Saya selalu melanggar jadwal menulis yang saya buat sendiri. Jadi, ya, inilah saya sekarang. Dalam perjalanan panjang menuju pulas. Melupakan tulisannya.

“Bangun! Hei! Bangun!”
“Aduh. Saya baru saja mau merem.”
“Kata siapa baru mau merem? Kamu tuh molor dari tadi.”
Saya melirik ke arah suara. Nura? Mengapa dia ada di kamar saya? Teriak-teriak pula. Rasa kantuk membuat saya enggan bertanya. Saya memaksa membuka mata ke monitor yang menyala di hadapan saya. Tak ada kata. Hanya huruf “z” berderet panjang, berbaris-baris memenuhi monitor. Segera saya lepas jari saya dari keyboard.
“Cepat kamu selesaikan bagian akhirnya siang ini. Waktu kamu tinggal lima jam lagi.”
Saya pencet “undo” berkali-kali hingga menemui kata, lalu kalimat, lalu paragraf, lalu bab yang belum selesai. Saya sedang mengetik? Tadi saya sudah putuskan untuk melupakan tulisan, bukan?
“Oya, nanti sore kita ke toko buku. Jangan lupa,” sambung Nura.
“Apa? Nura! Tolong cubit saya! Bangunkan saya! Ini pasti cuma mimpi.”
“Mimpi bagaimana maksud kamu? Mimpi kamu itu tuh itu! Kamu sendiri yang menempel di tembok itu. Pelototi sampai puas. Ya, sudah saya pergi dulu. Jam 12 nanti jangan lupa makan siang kamu dimakan. Sudah saya siapkan di meja. Saya datang nanti jam 4 sore, terus kita pergi. Jam 4 sore perginya. Jadi, kamu siap-siapnya satu jam sebelumnya. Saya sudah pasang alarm jam 3. Jangan terlambat.”
Pandangan saya mengikuti Nura yang keluar kamar. Aduh. Apa-apaan ini? Ini kamar saya, tapi kenapa begitu asing? Pintu itu, tembok, kasur, lemari, jendela. Semua sama. Tapi,…. Saya pelototi dinding di belakang monitor. Selembar kertas karton warna putih dengan diagram dan tulisan tangan saya. Kata paling atas berbunyi “Mimpi”. Mimpi macam apa ini? Ini pasti bukan mimpi, melainkan saya menitis ke tubuh orang lain. Oke. Saya menitis. Mmm, baiklah. Menitis jadi siapa? Tapi, tulisan di kertas karton itu tulisan saya. Saya amati lagi diagram di tembok. Itu semacam diagram alur cerita. Saya ikuti seluruh alurnya hingga akhir. Saya meneteskan air mata. Jadi, saya harus menulis akhir cerita ini sesuai diagram itu? Baiklah, saya suka ceritanya.
KRIIIIING!
Aduh buat kaget saja! Nura! Kenapa kamu pasang alarm volume tertinggi? Kamu pikir saya tuli? Oke saya matikan, tapi saya selesaikan sedikit lagi, ya.
TUUUUUUUUT, TUUUUUUUUUUT, TUUUUUUUUT….
Bunyi apa lagi itu, Nura? Setelah pasang alarm, sekarang kamu menelepon!
“Ya, halo, Nura. Saya sudah dengar alarmnya.”
“Sudah siap?”
“Katamu jam 4.”
“Iya, maksud saya, kamu siap-siap mulai sekarang.”
Aduh, cerewet sekali cewek itu. Baiklah. Saya selesaikan dulu.
“Hei, kamu belum siap-siap?” kata Nura yang sudah datang 5 menit setelah menelepon tadi, “sudah saya duga! Untung saya cepat kemari. File ceritamu sudah disimpan di flashdisk?”
“Disimpan di flashdisk?”
“Ah, saya sudah tahu selalu begini. Sini, biar saya yang urus.”
Tiba-tiba kami berada di tengah kerumunan orang dan rak buku. Toko buku? Spanduk besar dengan foto saya dan buku berjudul Mimpi terpasang di panggung kecil tempat saya dan Nura berdiri.
“Teman-teman, sekarang kita akan bersama-sama menyaksikan posting terakhir cerita Mimpi di blog Story yang sebentar lagi akan dibuat versi cetaknya. Silakan, Story untuk memposting.”
Tepuk tangan bergemuruh dan saya berada di tengahnya, menjadi sorotan puluhan pasang mata yang menanti akhir cerita saya.

“Bangun! Hei! Bangun!”
“Aduh, Nura. Saya baru saja mau mem-posting. Ibu?”
“Posting apa? Sudah jam 10, waktunya tidur. Komputer dari tadi menyala, orangnya tidur. Matikan! Tidur sana!” kata Ibu.
Tidur? Tadi sudah tidur dibangunkan, sekarang disuruh tidur? Jam 10? Jadwal lagi? Ufff.

Iklan

One thought on “Sensasi Tunggal

  1. Ini adalah tulisan #193 saya dalam program WordPress’ 365 Days of Writing Prompts.
    #193 July 12 Singular sensation. If one experience or life change results from you writing your blog, what would you like it to be?
    Blogging 101: Be Inspired by the Neighbors. Today’s assignment: write a post that builds on one of the comments you left yesterday. Don’t forget to link to the other blog!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s