Tentang Dia

Picture 099Ketika kecil, dia ingin sekali menulis cerita. Ibunya sering kali membacakan dongeng untuknya sehingga dia menciptakan tokoh khayalan yang ingin dia tulis kisahnya di dalam buku cerita. Dia mengambil selembar kertas, melipatnya, dan menjadikannya buku mini 8 halaman. Di sampulnya, dia menggambar tokoh itu, menulis judul cerita, dan menulis namanya sebagai pengarang.
“Bu, aku punya buku cerita buatanku sendiri.”
“Bagus. Jadi, sekarang kamu yang cerita ke Ibu, ya.”
Sayangnya, keinginan hanya tinggal keinginan. Halaman-halaman berikutnya dalam buku mini itu tidak kunjung terisi dengan cerita hingga sekarang. Dan ibunya tidak pernah bertanya tentang cerita itu.

www.smslucknow.comKetika remaja, dia menjadi pengurus majalah dinding di sekolah. Kadang-kadang dia memasang cerpen karyanya untuk bisa dinikmati teman-temannya.
“Saya suka cerita-ceritamu. Kenapa gak kamu kirim ke penerbit majalah?” kata temannya.
Dia terhenyak. Mengapa tidak? Dia pun tertarik. Dia mulai menulis cerita dengan serius. Namun, setelah cerita itu selesai ditulis, dia ragu untuk mengirimnya ke penerbit majalah. Cerita karyanya itu tidak pernah terkirim hingga sekarang. Dan temannya tidak pernah bertanya tentang cerita itu.

rp.bergen.orgKetika mahasiswa, dia mengambil mata kuliah Penulisan Populer. Itu adalah kelas yang dia idam-idamkan. Kelas yang menekankan pada praktik menulis. Dosennya selalu memberi sedikit penjelasan tentang macam-macam tulisan lalu para mahasiswa disuruh membuatnya di rumah. Pada pertemuan berikutnya, dosen menilai hasil karya mereka. Dosen itu sangat objektif dalam menilai. Seluruh mahasiswa harus siap malu “ditelanjangi” di kelas. Ajaibnya, dia sering mendapat pujian dosen. Setiap pekan dia mampu menghasilkan cerita bagus. Aktivitas itu ia lakukan selama satu semester. Setelah tidak lagi dipaksa untuk membuat tulisan sebagai tugas kuliah, dia tidak lagi menghasilkan cerita. Dan dosennya tidak pernah bertanya tentang cerita itu.

voxcantor.blogspot.comKetika baru menjadi editor di perusahaan penerbitan, dia mendapat tugas untuk menyelesaikan sebuah buku yang harus diterbitkan dalam waktu tiga bulan. Dia berhasil selesai mengedit buku itu dalam waktu sebulan lalu menyerahkannya kepada bosnya. Namun, hasil pekerjaannya ditolak.
“Buku apa ini? Buang di tong sampah! Kamu tulis buku sendiri!”
“Apa? Saya editor, bukan penulis.”
“Saya tidak peduli. Buku itu harus diterbitkan dalam waktu dua bulan. Saya yakin kamu bisa.”
Tugas itu membuat dia gila. Sebagai karyawan baru dia mendapat tugas yang sangat berat. Dia harus benar-benar fokus dan kadang-kadang membuatnya lupa waktu istirahat. Hal itu benar-benar ajaib. Buku itu akhirnya dapat diterbitkan tepat waktu. Buku itu terjual habis di pasaran. Dia mendapat bonus berlibur ke luar negeri. Tapi ada sesuatu yang membuat dia merasa sesak. Ternyata, penulis X yang namanya tercantum di sampul buku yang dia tulis itu mendapat royalti yang besar. Penulis gadungan itu bahkan bisa membeli rumah dari buku karya dia. Dia yang telah menulis buku itu. Dan penulis gadungan itu tidak pernah bertanya tentang cerita itu.

meredithbond.comBegitulah. Dia selalu sibuk bekerja untuk orang lain. Dia selalu berdoa agar Tuhan membuat dia berada dalam kondisi dipaksa untuk menulis buku ceritanya sendiri. Ya, buku cerita dengan namanya sendiri tercantum di sampulnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s